SEPENGGAL DOA PERPISAHAN
Satu
hal yang tidak pernah aku bayangkan, yaitu kehilanganmu. Tidak lagi
menjadikanmu tempat aku bercerita hal-hal kecil sampai hal-hal yang
menjengkelkan, tidak lagi menjadikanmu
tempat aku berbagi rasa rindu, tidak lagi ada mencari handphone di
setiap pagi hanya untuk membaca pesan sapaan selamat pagi darimu. Semuanya
memang sudah berbeda, semuanya sudah tak lagi sama. Aku bukan lagi sesuatu hal
yang kamu utamakan. Aku bukan lagi hal yang kamu inginkan.
Kamu
paham betul seberapa dalam aku mencintamu, seberapa tinggi angan-angan untuk
terus bisa bersamamu. Nyatanya, saat cerita kita telah usai akulah yang paling
hancur, akulah yang paling kehilangan arah dan akulah yang paling rapuh selepas
perpisahan kita. Semua terasa sia-sia saat kamu memilih untuk menyerah.
Doamu
kala itu hanya ingin aku tetap baik-baik saja walaupun ada atau tanpa adanya
kamu. Aku pikir itu hanya sepenggal doa yang sia-sia, saat itu aku berpikir bagaimana
mungkin aku melewati hari tanpamu. Tapi kenyataannya lain, semesta tidak membiarkanku
berlarut dalam kesedihan terlalu mendalam sedalam aku mencintaimu. Kini aku
sudah bisa tanpamu, lebih tepatnya terbiasa tanpamu. Saat ini tanpa kamu
hidupku tetap berjalan seperti biasanya, Aku bisa melakukan semua aktifitasku
seperti biasanya, hanya saja tanpamu semuanya hampa. Tidak mudah memang untuk
bisa terbiasa tanpamu butuh proses yang panjang, waktu yang cukup terbuang
sia-sia dan perasaan yang sangat amat lelah. Tapi saat ini masa itu telah
berakhir.
Sekarang pergilah, jangan lagi mengkhawatirkan soal aku, bagaimana aku saat ini, atau arah jalan yang aku tempuh. Mengusap air mata adalah hal yang mudah saat ini. Aku tegaskan sekali lagi, aku baik-baik saja. Sepenggal doa yang kau ucap saat perpisahan kita telah dikabulkan oleh Tuhan. Aku tetap baik-baik saja seperti doamu kala itu. Terima kasih untuk tetap mendoakan kebaikkanku. Terima kasih untuk sepenggal doa yang tak sengaja kau ucapkan kala itu hanya untuk membuatku tetap merasa tenang saat perpisahan kita. Doa yang tak sengaja terucap dan di kabulkan oleh Tuhan.


Pernah ada secangkir teh, hangat dan manis, diantara dua kursi kita.
BalasHapus"kenapa kenangan itu terasa indah?
karena kenangan itu tdk akan pernah terulang lagi, jd itu yg bikin terlihat indah"
duuhh bikin baper ini komentarnya haha
BalasHapus